
Berlatih khutbah tidak sekadar melatih kemampuan berbicara, tetapi juga menjadi proses pembentukan mental yang kuat. Kegiatan ini menumbuhkan kepercayaan diri, mengasah keberanian tampil di depan umum, serta melatih pengendalian emosi dan kejernihan berpikir. Dengan latihan yang dilakukan secara rutin dan terarah, seseorang terbiasa menyusun gagasan secara sistematis, berbicara dengan terstruktur, dan merespons situasi dengan tenang. Perlahan namun pasti, latihan ini melahirkan ketenangan batin dan ketegasan dalam menyampaikan pesan kepada jamaah.
Dari perspektif psikologi, latihan khutbah yang di ikuti siswa SMK Muhammadiyah 1 Klaten Utara sejalan dengan konsep self-efficacy yang dikemukakan Albert Bandura. Self-efficacy adalah keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam melakukan suatu tugas. Latihan berbicara di depan publik secara berulang terbukti meningkatkan rasa mampu dan mengurangi kecemasan sosial. Paparan bertahap terhadap situasi yang menantang (seperti berdiri di mimbar) juga dikenal dalam psikologi sebagai exposure, yang efektif menurunkan rasa takut dan meningkatkan kontrol diri. Dengan demikian, khutbah bukan hanya aktivitas spiritual, tetapi juga sarana latihan mental yang ilmiah.
Selain itu, aktivitas khutbah melatih regulasi emosi, yaitu kemampuan mengelola perasaan gugup, takut, atau tertekan saat berada di hadapan banyak orang. Dalam psikologi kognitif, kemampuan ini berkaitan dengan emotional intelligence sebagaimana dijelaskan oleh Daniel Goleman. Seorang khatib dituntut untuk tetap tenang, fokus, dan empatik terhadap kondisi jamaah, sehingga secara tidak langsung melatih kesadaran diri (self-awareness) dan pengendalian emosi (self-regulation).
Dari sisi dalil keagamaan, Islam sangat menekankan ketenangan dan keteguhan dalam menyampaikan kebenaran. Allah SWT berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125). Ayat tersebut menegaskan bahwa dakwah, termasuk khutbah yang dilatihkan kepada siswa SMK Muhammadiyah 1 Klaten Utara, harus disampaikan dengan kebijaksanaan, ketenangan, dan penguasaan diri. Nilai-nilai ini selaras dengan prinsip kesehatan mental dalam kajian psikologi modern., termasuk khutbah, harus disampaikan dengan kebijaksanaan, ketenangan, dan penguasaan diri—nilai-nilai yang sejalan dengan prinsip kesehatan mental dalam psikologi modern.
Rasulullah ﷺ juga dikenal sebagai teladan dalam komunikasi yang tenang, jelas, dan menyentuh hati. Dalam hadis riwayat Aisyah RA disebutkan bahwa Rasulullah berbicara dengan perlahan dan teratur sehingga mudah dipahami. Hal ini menunjukkan bahwa latihan berbicara yang baik tidak hanya berdampak pada efektivitas pesan, tetapi juga mencerminkan kematangan emosi dan kestabilan mental.
Dengan demikian, berlatih khutbah dapat dipahami sebagai proses integratif antara penguatan spiritual dan pengembangan psikologis. Ia membentuk pribadi yang percaya diri, tenang, dan tegas—tidak hanya sebagai penyampai pesan agama, tetapi juga sebagai individu dengan kesehatan mental yang lebih baik dan kemampuan komunikasi yang matang
Red.Eko Wid

Komentar Terbaru